TUNJANGAN SERTIFIKASI BIKIN GURU BERCERAI : GAJI LEBIH TINGGI, GAYA HIDUP BERUBAH

INFOPNS.ID – Selamat siang para pengunjung setia info pns diseluruh indonesia.  Perempuan berparas manis itu termenung dengan pandangan kosong di ruang tunggu Pengadilan Agama Kota malang. Matanya terlihat berkantung dengan wajah sedikit pucat, tanpa riasan. Kesedihan yang amat sangat lah yang membuatnya seperti itu. Meskipun begitu, ia juga tetap teguh pada keputusannya untuk berpisah dari suami.
 “Lebih baik pisah dari pada harus diduakan,” ujarnya pelan kepada Malang Post.
TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU

Memang tidak mudah, bagi perempuan berinisial SU ini, menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada orang lain, apalagi kepada Malang Post untuk dipublikasikan. Ia tidak ingin kesakitannya ini juga dialami oleh keluarga besarnya.
SU memutuskan untuk bercerai setelah melihat perubahan gaya hidup suaminya sejak diangkat menjadi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Pendapatan yang bertambah, membuat suaminya berubah. Ia menjadi lebih peduli terhadap penampilan, berpakaian rapi dan lebih wangi, karena punya dana untuk membeli semua yang dibutuhkan itu. Sebelumnya tidak masalah, SU malah senang dengan perubahan itu. Namun belakangan gaya hidupnya juga berbeda.
Suaminya semakin sering pulang malam, dengan alasan harus menambah jam mengajar dan peningkatan aktivitas lain. Sebagai istri, SU tetap memberikan dukungan kepada suaminya.
Namun semakin lama, suaminya tidak pulang malam, tapi malah keesokan harinya. “Saya mendapatkan informasi dia menjalin hubungan dengan siswanya, saya telusuri ternyata bukan dengan siswa tapi orang lain,” ujar perempuan yang belum dikaruniai anak dari pernikahannya ini.
Ia mengantongi beberapa bukti bahwa suaminya yang seorang guru SMA ini telah mendua. Ia beberapa kali mencoba berbagai langkah untuk mempertahankan rumah tangganya, namun upaya tersebut gagal. “Dia sudah berubah,” ujarnya. Hingga akhirnya SU pun memutuskan untuk berpisah, meski ia hanya ibu rumah tangga biasa. Tanpa pekerjaan tetap.
Lain lagi cerita Ana (bukan nama sebenarnya), guru ASN yang mengajar di salah satu SMA di Kota Batu. Ia memilih pisah dengan suami, meski dari pernikahan keduanya, telah terlahir anak yang masih kecil.
“Suami saya yang kerjanya swasta, dia selingkuh dengan tetangga saya. Beberapa kali saya ingatkan tapi dia tidak bisa berubah, akhirnya saya memutuskan untuk berpisah,” ujarnya.
Berbeda dengan SU yang terlihat begitu sedih atas perceraian yang dialaminya, Ana yang ASN dan mendapatkan tunjangan sertifikasi terlihat lebih siap menghadapi tantangan untuk menjanda.
Secara tersirat, Ana mengatakan, ia bisa mandiri meskipun tanpa suami. Terlebih menurut Ana, bila dilihat dari sisi penerimaan gaji, besaran gaji yang diterimanya jauh lebih besar ketimbang income suaminya. Karena itulah ia tidak begitu merisaukan perceraian tersebut.
Pengadilan Agama Kota Malang banyak menangani kasus perceraian guru. Salah satu faktor yang membuat para pendidik ini memutuskan bercerai, diduga karena penerimaan sertifikasi guru, yang memberikan multiple effects pada kehidupan dan keharmonisan rumah tangga.
“Banyak guru yang mengajukan perceraian, hal ini terjadi sejak guru mendapatkan tunjangan keahlian (sertifikasi, Red),” ujar Joni Hehakaya, salah satu pengacara. Lonjakan jumlah guru ini menjadi perbincangan tersendiri di kalangan pengacara.
Menurutnya, jumlah guru yang bercerai di Kota Malang dan Kota Batu tidak begitu besar. Dari obrolan para pengacara, jumlah guru yang bercerai di Kabupaten Malang lebih besar ketimbang dua kota ini.
Para pengacara tidak tahu persis apa penyebab melonjaknya jumlah perceraian guru. Namun mereka menduga, perceraian guru ini terjadi saat pemberian tunjangan sertifikasi diberikan.

Lakukan Riset Perceraian Kalangan Profesi
Sebuah riset sedang dikerjakan oleh Drs. HM Rosyad M.Si, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Kantor Kementerian Agama, Kota Batu tentang motivasi atau penyebab kalangan profesi untuk bercerai.
Beberapa kalangan profesi dijadikan responden dari riset ini, salah satunya adalah guru. Rosyad mengambil responden yang saat ini masih dalam tahap konsultasi perceraian, sudah mendaftar di Pengadilan Agama, ada juga responden yang sudah dimediasi PA akhirnya rujuk lagi, juga responden yang akhirnya berakhir perceraian.
“Penelitian yang saya lakukan ini masih berproses, kesimpulan tentatif dan masih menunggu bukti lain sebelum menghasilkan kesimpulan akhir,” ujar Rosyad.
Kesimpulan sementara yang didapat dari risetnya, saat ini terjadi lunturnya memegang nilai-nilai di kalangan guru. “Sertifikasi mengubah pola dan gaya hidup. Ada culture shock atau kejutan budaya,” ujar Rosyad.
Tunjangan sertifikasi ini, menurut Rosyad, sebenarnya disiapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, namun yang terjadi banyak yang salah menggunakannya karena tidak memegang nilai-nilai.
Menurutnya, ada responden yang akhirnya mengubah gaya hidupnya, mulai dari cara berpakaian, cara pergaulan hingga kebiasaan. “Ada responden guru laki-laki yang memang menggunakan uangnya untuk keperluan lain, sementara ada responden guru perempuan menjadi menyepelekan suami karena gajinya lebih kecil,” ujar Rosyad.
Ada juga responden yang minder karena penghasilan jauh lebih rendah ketimbang istrinya yang guru, hingga memunculkan disharmonisasi di keluarga. Hasil sementara risetnya juga menyebutkan, ada beberapa hal yang menjadi penyebab perceraian di kalangan guru, yaitu aksi temperamental dari salah satu pasangan, ada pihak ketiga dan faktor ekonomi. “Temperamental prosentasenya kecil, selingkuh kecil, prosentase terbesarnya adalah perubahan gaya hidup,” ujarnya.
Temperamental dan perselingkuhan menurut Rosyad, jika diprosentasekan hanya 5 persen menjadi penyebab perceraian. Seorang guru SMA di Kota Batu ketika dikonfirmasi terkait dengan hasil riset tersebut membenarkan bahwa tunjangan sertifikasi yang diterima memang banyak mengubah gaya hidup guru.
“Kita akui pemberian tunjangan sertifikasi ini memang mengubah gaya hidup kita. Pendapatan kita banyak sekali perubahannya,” ujar salah seorang guru di Kota Batu yang wanti-wanti supaya namanya tidak dikorankan.
Namun ia menegaskan yang menjadi korban perceraian, kebanyakan perempuan yang ditinggalkan.  “Tetap banyak guru perempuan yang dicerai. Memang sih kalau gurunya perempuan, mendapatkan tunjangan itu tidak lagi khawatir dicerai oleh suami, apalagi pendapatan suami lebih kecil. Wanita lebih mampu dan lebih mandiri,” ujarnya.
Dilansir dari situs malangpost.net

Demikian informasi yang dapat kami bagikan. Semoga bermanfaat. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Jangan lupa like komen dan bagikan info ini ya. Terima kasih

0 Response to "TUNJANGAN SERTIFIKASI BIKIN GURU BERCERAI : GAJI LEBIH TINGGI, GAYA HIDUP BERUBAH"

Posting Komentar